Puisi: Dua Buku Satu Jalan

Standard

Menulis dalam dua buku berbeda dia pikir sulit

Harus membuka-tutup covernya

Membolak-balik halaman terakhirnya

Dan menyambung tiap paragraf yang sama dengan cerita yang berbeda

 

Di buku pertama,

Semua halaman bergambar,

Dilatarbelakangi warna-warna cantik,

Berkertas ragam bentuk nan menarik,

Layaknya buku harian anak kelas 2 SD

Namun tertulis indah, layaknya seorang penyair kelas dunia

Penuh imajinasi nakal, diisi dengan canda

Berisikan ramai suara, gelak tawa geli dan suara lari

Bahkan tetap menyenangkan bayangannya ketika tiap-tiap sepi

Begitulah buku pertamanya,

Dia pastikan kau iri bersamanya di dalamya

 

Di kehidupan yang sama,

Dia punya dua buku

Dalam siang dan malam

Di bawah matahari dan bulan

Namun dalam satu naungan langit

 

Di buku kedua,

Semua nampak usang,

Warna covernya yang mengabur, ujung-ujung kertas luyuh bekas lipatan, bercak tetesan air yang mengering sebagai latar dari tiap halaman

Maaf,

Bukan tidak mensyukuri siang, hanya saja malam terasa berbeda

Ketika semuanya tertidur, malam terasa lebih dingin

Udara terasa lebih sulit masuk ke paru

Jenuh menjadi kata favorit

Ketika ditanya, “sobat, kau punya masalahkah?”

Bodoh, sebutan masalah hanya untuk hal-hal baru yang mengejutkan

Bukanlah untuk alasan kenapa di setiap malam dia harus membungkam mulutnya sendiri, agar tidak terdengar saat merintih

Bukan untuk alasan kenapa di setiap malam, dia harus merasa ada sesuatu yang hangat mengalir dari ujung matanya

Bukan untuk alasan yang menjadikannya takut pada sesuatu

Bukan.

Yang dia yakini hanya kebetulan sebagai variasi halaman buku hitam

Ternyata datang terlalu sering

Terlalu banyak pengulangan

Jenuh…

Tertutup mata, mengumpulkan segenap tenaga untuk bernapas

 

Salam perpisahan pada ujung malam,

Tertulis,

“Ku Mohon, Tegar Tetaplah”

Selalu tertulis demikian

 

Dua buku dalam satu jalan

Kenyataannya begitu, dan keduanya bukan sedang berlakon

Walau kian dia mengagumi akting nya sendiri

Tersenyum sinis mengagumi bakat anehnya

 

Siang dan malam

Di bawah matahari dan bulan

Dalam satu naungan langit

Dua buku, dua kisah, dua jelmaan, satu penulis. Dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s