LEBIH DALAM LAGI

Standard

Aku adalah aku,

Bagian indah dalam ruang yang menakjubkan

Bagian cerita dalam tumpukan buku

Terselip kisah, ada aku

(dikutip dari Puisi “Aku”)

 

           Seperti sehelai daun yang tumbuh di pohon besar. Bertahan karna habitat yang memungkinkan, karena musim yang berputar beraturan, karna hujan yang disediakan Tuhan dan karna ranting-ranting memperkokohnya. Semuanya beraturan, sinergis, dan berjalan seperti seharusnya. Merasa begitu aman dan rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sesekali bunga akan mekar, dengan begitu keceriaan pun hadir. Bukankah hidup terasa begitu mudah?

           Tapi bukankah kita semua tahu, daun tidak selamanya akan bergantung di ranting, sekokoh apa pun itu pohonnya. Pada saatnya, daun akan dibiarkan terbang, bisa ke tempat yang jauh sekali bisa juga hanya jatuh di bawah pohon. Pilihannya simple, bukan?😉

            Seperti itu lah gadis itu dibesarkan. Semuanya berjalan saaaangat lancar.

Yah, sampai akhirnya aku memilih SMA dimana aku harus hidup lebih mandiri, tanpa orang tua (red: ngekosss). Menginjak ke dunia yang ini seperti mengintip dunia luar dari lubang kunci. Waktu-waktu untuk beradaptasi itu adalah waktu-waktu dimana aku mulai mempelajari dunia yang tidak pernah aku duga nyata sebelumnya. Aku yakin semuanya memiliki rumusan, yangmana bisa dilihat tidak hanya dengan mata. Perlu waktu cukup panjang untuk itu, hmmf… kenangan itu buruk sekali. Ckckck. Aku bahkan malu kalau harus mengingat pernah nangis di depan orang tua dan penjaga asrama untuk minta pulang. Aigoo… Tidak lagi!

            Gadis itu keluar. Dia benar-benar berada di luar. Pemandangan-pemandangan semacam “itu” ternyata benar-benar ada. “Pemandangan itu”? Itu yang bagaimana? Semuanya, semuanya seperti yang ada di dalam dongeng. Kisah-kisah berisi ambisi, romantic, persahabatan, pertengkaran, penyesalan, pengkhianatan, perjanjian, dsb. Dari kisah-kisah itu, gadis itu banyak belajar bagaimana caranya tertawa ketika sebenarnya dia ingin menangis, bagaimana cara terlihat tegar dan tetap bijaksana mengatur segalanya ketika dia merasa tidak ada yang bisa dilakukan, lalu bagaimana caranya menghadapi seseorang yang “mengganggu” dan berpura-pura tidak terjadi apapun, kemudian dengan tulus mengatakan, “apa kabar?”. Bukankah hidup mulai terasa menarik? tidak hanya hidup dalam satu kubah pohon, tapi dalam lingkaran biru besar yang bernamakan “bumi”.

Aku tidak terlalu suka belajar, tapi aku sangat suka membaca. Beruntung juga punya hobi yg ini. Ada banyak fase inspiring saat di SMA, tapi hal yang paling membuatku sangat bangga terhadap usaha ku sendiri adalah saat kelas 3 SMA (penghujung kelulusan). Aku benar2 belajar mati-matian. Kalau dipikir-pikir alasanku begitu keras, bukan saja karena aku merasa khawatir bukan main tentang ujian masuk SNMPTN, tetapi karena di saat itu semua masalah datang terus menerus. Di saat itu, untuk pertama kalinya aku mendapatkan hal-hal yang paling buruk sampai rasanya sulit sekali bernapas. Lebih buruk lagi, di saat aku memilih untuk tidak bercerita pada siapa pun. Dengan menyibukkan diri dan berkumpul dengan yang lain benar2 jadi hiburan. Semuanya menjadi hiburan (red: escape). Bagaimana bisa belajar jadi hiburan saat itu? Entahlah. Too complicated. Beruntungnya di saat-saat yang begitu berat sangat jelas aku tidak sendirian, ada banyak teman yang menginspirasi. Aku bahkan tidak bisa mengingat, kekuatan apa yang menyurupi tubuhku saat itu? Hmm.. Lalu, sudah berapa jauh aku dari persimpangan itu?

            Lucu, dia bercerita dengan begitu polos😀

            Hey, sekarang aku adalah mahasiswi fakultas kedokteran! ^_^

             Lihat, ternyata dunia tidak hanya sebatas bola biru. Masih ada ruang-ruang lebih luas di luar sana. Maka gadis itu kembali belajar mengenal dunia yang dia sebut sebagai kehidupan, ruang demi ruang.

            Dokter? Actually it’s not my dream, it’s my mom’s. Aku punya banyak cita-cita dari kecil, mulai dari jadi guru, pembaca berita di televisi, pengacara, wartawan, dannnnnn… (masih banyak lagi), tapi yg paling aku ingat (karna mungkin masih sedikit bersisisa keinginan yang satu ini) adalah menjadi seorang psikolog dan penulis. Lalu apa aku menyesal? ingin menyerah? ^_^ Jawabannya: tidak sama sekali! Aku tidak pernah berfikir sekali pun bahwa apa yang mereka inginkan akan buruk untukku. Lalu bagaimana dengan keinginanku? Cepat-cepat aku hapus. Dan aku tidak menyesal sama sekali. Kurasa menjadi psikolog dan dokter sama saja, Bukankah aku juga bisa berkomunikasi dengan banyak orang. Penulis? Walau aku belum punya nama untuk itu, panteng nama beberapa kali di media massa juga cukup baik. Eh, ada sebuah pernyataan yang aku suka, “Jika kau ingin orang lain tahu bahwa kau pernah hidup di kehidupan yang ini, kau perlu menulis. Dengan begitu namamu akan tetap ada”. Sejujurnya, aku masih sangat amatir -_- yahh.. paling tidak untuk menghibur diri :O Tidak buruk!

            Seperti arah bunga matahari yang mengikuti matahari berjalan, begitu juga pendiriannya. Sudah sebegitu jauh berjalan dan sudah begitu banyak rumus yang dibuat, pendiriannya masih saja sering seperti itu. Ragu. Dasar, gadis itu!

            Apa boleh buat, sudah sampai sini. Ada banyak alasan kenapa aku harus bertahan, sekalipun aku ragu.

Mimpi. Gadis itu percaya akan mimpi-mimpinya. Tidak ada yang menjanjikan padanya bahwa doa-doa dan mimpi-mimpinya akan benar-benar menjadi nyata. Hanya saja seperti sebuah kesenangan. Impian menjadi alasannya untuk tidak peduli dengan apa yang tidak ingin dipedulikannya.

            Satu lagi yang menarik, baru-baru ini aku bisa menyadari ada sisi lain dari arti persahabatan. Pertemanan, persahabatan, tidak hanya memiliki arti sempit dari ketulusan mendengarkan cerita dan memberikan pendapat, Tetapi ada sisi lain, aku menyebutnya “time keeper”. Apa itu? Pemacu. Penjaga. Arti sahabat yang terakhir aku dapat adalah menjaga impian dari sahabatnya. Mengingatkan dan meluruskan sesekali. Ketulusan seperti itu… jarang sekali ada. Bukankah sekarang lebih banyak sahabat yang berkecil hati atas keberhasilan sahabatnya?😉

            Gadis itu tersenyum. Bukan karena jalan yang ditempuhnya begitu mulus, tapi karena menyadari jalan yang baru ditempuhnya sangat sulit dan dia tahu jalan di depan akan lebih sulit lagi. Dia tersenyum karena dia ragu? Bisa jadi. Tapi dia yakin mau mencoba. Ada banyak kekuatan yang datang, bagaimana bisa tidak cukup untuk survive?

            Sungai yang panjang sekali pun pasti memiliki pelabuhan. Bagaimana ini tidak? Pasti terletak di salah satu ujungnya.

            Aku ingin hidup lebih lama. Sampai detik ini aku sama sekali belum berguna. Ada banyak hal yang ingin aku lakukan. Maksudku dengan kata banyak… adalah sangat banyak!😉

            Baiklah, tanda titik di halaman ini bukan berarti cerita telah berakhir. Tapi bersiaplah untuk ke halaman selanjutnya. Cerita masih panjang… dan pastikan akan lebih menarik.

^_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s