Merpati, Rindu, Aku, Kau

Standard
Gemulir anggun hempasan kelopak matahari

Bersatu mainkan biramanya bersama alam

Sibuk sampaikan pesan kasih dari Tuhan

Masih, lembayung senja biaskan mata yang berkaca

 

Di tengah kesibukan Tuhan

Merpati itu terbang dengan satu sayapnya

Rapuh, lemas, sepi, walau masih tinggalkan sisa nyawa untuk tetap terbang

Di antara bentang kapas putih hiasan kanvas biru

 

Siapa bilang merpati selalu berpasangan?

Merpati itu sendiri

Merpati itu…

Aku

Yang rindukan kasihnya

 

Merpati itu pernah dengar manusia katakan:

Hidup itu sekali

Mati itu sekali

Dan cinta itu juga sekali

Hah.. terdengar picik

 

Dan kau tahu?

Merpati itu sudah (pernah) temukan cintanya

Cerita cinta yang tak berujung

Kian putus tinggalkan jejak

Jelas…

 

Tidak untuk dicari lagi…

Tidak untuk dikenang lagi…

Tidak untuk dipaksa semula…

Karna semua telah hilang dalam nyata

Raib dari tatapan

Sirna dari genggaman

 

Tapi bayangnya slalu hadir di setiap pejaman

Hadir di setiap lagu yang didengar

Menyiksa,

Menghantui dalam setiap mimpi

Mencoba mainkan nada yang lain

Birama baru

Not not baru yang dibuat dengan sayap indahnya

Sayang, ketika sadar yang dimainkan masih lagu yang sama,

Kau…

 

Merpati malang itu terus terbang

Meyelusuri permadani biru milik Tuhan

Sebentar mengitari bentangan garis berwarna dibawahnya

Rasakan percikan anak hujan yang menyapanya

 

Dari sini,

Dari atas sini,

Dia kirimkan pesan cinta lewat gemulir angin

Bisikkan kata sayang kepada anggunnya aliran sungai

Berjuta harapan agar kau kan dengar

 

Semuanya, segalanya, seluruh kebodohan ini

Hanya akan merpati lakukan ketika dia benar-benar rasakan rindu pada cinta awang-awangnya itu

Heh.. kau tahu?

Merpati lakukan itu semua di setiap detiknya,

Disetiap sela detak nadinya

 

Lalu kau anggap apa dirimu?

Hebat?

Berkuasa?

Atau…. pecundang?

Sampai berani kau siksa merpati dalam jerat kurung bayangmu

Tapi tak kau sisakan sedetik pun waktu nyata baginya

 

Hey bung, kau bukan siapa-siapa!

Kau bukan dewa yang patut di puja

Kau hanya penganggu

Lepaskan lah merpati itu dari jerat rasa rindunya

Enyahkanlah dirimu,

Sampai sekeping bayangmu pun tak dia temukan dalam hatinya (lagi)

 

3 responses »

  1. hahahaha….. gue ngerti nich puisi.
    gue copy ya buat ajari seseorang untuk bisa menghargai perasaan orang lain😀
    thanx salam kenal

  2. …..merpati itu tidak sendiri….
    .hadir mentari temani paginya
    .sapa lembut embun yang menegurnya
    .orange raja langit hangatkan tubuhnya
    .dan banyak cinta tanpa sadar menyapanya;
    .maka,
    .berbahagialah….
    .bersyukurlah….
    .tersenyumlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s