Menulispun Menjadi Pilihan Terakhir

Standard

Gak semua orang bisa jadi appreciate yang baik buat emosinya. Mm… yaaa mungkin gue salah satunya. Lho setuju gak kalau gue bilang, “Mengapresiasikan

which one yours?

perasaan sedih itu lebih sulit daripada mengapresiasikan kesenangan”?  Ada banyak hal yang membuat orang merasa sedih; karena kegagalan, dikhianati, dan atau karena kehilangan. Ada banyak hal juga yang menyebabkan orang merasa euforia; karena kemenangan, kebersamaan, dan atau karena kejujuran.

Kalau lho lebih gampang mengapresiasikan yang mana?

Ketika perasaan itu terasa mulai berlebihan, lho mulai takut kata-kata kesenangan lho itu akan melukai perasaan orang lain yang tidak merasakan hal yang sama dengan lho rasakan; atau lho takut hanya dengan menumpahkan semua uneg-uneg lho, lalu kemudian mereka akan menganggap lho sebagai looser yang perlu dikasihani. Terkadang kata-kata yang gak sengaja keluar dari mulut kita, malah bisa merubah pandangan orang lain terhadap diri kita, padahal mereka belum mengenal baik siapa kita sebenarnya. Well, itu menyebalkan!

Maka disaat ini lah: Menulispun menjadi pilihan terakhir.

Gak akan ada yang protes tentang sususan S-P-O-K lho (*bodoh amat!), gak akan ada yang kritik tindakan bodoh lho itu, gak akan ada yang menganggap lho gila atau cengeng ketika lho tersenyum dan atau menangis karena hal sepeleh, tapi tulisan hanya akan mendengarkan dan menerima, tanpa menyela. Gak jarang malah tulisan buat kita legah dan puas🙂

Gak akan ada yang peduli kalau cerpen atau puisi yang lho tulis sekarang atau kemarin, ternyata itu isi hati lho sekarang, seburuk apapun watak tulisan itu, gak akan ada yang peduli!

Lho tahu, untuk beberapa masalah orang lebih memilih untuk menuliskan tulisannya di agenda pribadinya ketimbang di publikkan (blog)? [eh tapi ada juga lho orang yang nulis di blog tapi dikunci untuk selamanya. Hhehehe… tipikal yang ini nih gue kagak ngerti (?)]. Okay balik lagi ke yang tadi, salah satu alasannya adalah karena dia yakin orang gak kan mengerti masalahnya, semuanya terlalu rumit untuk menjadikannya menjadi kalimat-kalimat yang padu dan rapi, sehingga layak dibaca orang lain tanpa mengubah apapun. Itu sulit… lebih baik tidak perlu diketahui siapapun…😉

Jelaskan, pilihan apa yang akan lho ambil ketika menceritakan ke orang lain bukan option terbaik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s