Diary Biru

Standard

Semua ingatan seakan kembali

Menyentakkan memori yang nyaris sirna

Saat jemari menggenggam sebuah diary

Bersampulkan biru

Merangkum puluhan lembar kertas lusuh

 

Jemari menelusuri pelan paras diary lusuh itu

Mencoba mengingat, kenapa “biru”?

Apakah aku dulu seorang yang menyukai warna ini?

Rasanya…, “tidak”

Lalu?

 

Terus mengingat

Dengan ragu, lembar per lembar ku baca kembali

Nyaris tak terbaca,

Bertintakan hitam,

Tapi pudar ditelan waktu

 

Bola mata seirama dengan gerakan jari

Menelusuri kata per kata

Hingga ingatan demi ingatan kembali menyusup ke setiap sela ruang memori

Penuh cerita

Akan indahnya tawa bersama

Hingga cerita gerimis yang lama membasahi raga peluh

 

Hingga sampai lembar terakhir,

dengan tinta emas, bertuliskan…

“Tiba waktunya merpati putih merentangkan sayap indahnya

terbang lepas bebas dari kepul kabut tak bernyawa

yang lama menahan langkah gerak semu

selamat tinggal, masa penuh harap dan mimpi….

selamat tinggal masa SMA…”


Kembali mengingat,

Seolah tak mengerti, “harapan apa? mimpi apa?”

terselip sebuah ingatan yang menyala

akan hangatnya rasa cinta, persahabatan, dan pedihnya disakiti

 

Kembali kututup kumpulan lembaran lusuh itu

Menarik nafas legah…,

Sadar bahwa itu masa lalu

Masa lalu yang akan terus kubawa

Dalam kumpulan kertas lusuh dibalut sampul biru ini

Tertata rapi dalam sebuah tempat kecil, jauh disudut relung hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s