Who Care…!?

Standard

Gerimis itu hadir dalam senyum yang masih merekah

Sebagai nada tak bernyawa ketika mata melihat tawa itu

Gerimis terus turun bahkan lebih lama dari lama tawa itu

Hmm… tidak hanya gerimis, bahkan petir berulang kali menggelegar di dada yang semakin sesak

Terhenyuk diam di kedalaman ruang hampa

Telinga berusaha tidak mendengar

Mata berusaha tidak melihat

Tapi suaranya terus bergaung di setiap sudut isi kepala

Menggema menghantui perasaan yang samar

Senyum memang masih menghiasi bibir yang mulai kaku

Namun gerimis itu belum juga kian meredah…

Itu memang bukan petir

Itu memang bukan api

Itu memang bukan duri

Itu bahagianya,

dan mungkin juga bahagiamu

Ku sadari itu,

Tapi itu lebih menyakitkan telinga daripada petir, itu lebih pedih daripada panasnya api, dan itu lebih tajam daripada tajamnya ujung duri

Tapi siapa peduli!?

Aku pun mulai tak peduli

Berkilah dengan manisnya kata-kata

Hingga gerimis itu tak jua nampak oleh matamu

Gerimis itu belum juga kian meredah…

Aku tidak memintamu atau siapapun untuk menghentikan gerimis itu

Aku hanya menunggu waktu

Menunggu detakan jarum jam mengitari detiknya perlahan

Hanya berusaha menjaga yang telah baik,

Walau berat lidah berucap jikalau nyatanya,

Aku merindukan tawa setulus itu hadir bersamaku

Hmm… tapi tidak ada yang perlu dipaksa atau disalahkan

Namun gerimis itu belum juga kian meredah…

Peluh membasahi perasaan yang semakin samar

Aku tetap berusaha untuk tidak peduli,

walau nyatanya, sulit…

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s