Puisi: Caramu Menghormatiku?

Standard

Pengertianku yang dangkal

Sifatku yang mungkin kekanakkan

Tingkahku yang sembarang

Mengartikan sikapmu itu begitu ambigu

 

Tuturku yang acuh

Berceloteh pada siapa saja

Tertawa pun kadang lupa diri

Tiba2 seperti ditampar oleh pengertian yang tak berdefinisi

Kau memberikan pemahaman yang membuatku absurd sama sekali

 

Pandanganmu kau jauhkan dari wajahku

Candaanmu mu, bahkan kata2 mu, kau batasi bersamaku

Tempatmu kau jarakkan dari tempat ku berdiam

Aku, diam saja.

Mereka semua, sadar.

Kau, yang ada apa?

 

Sejatinya menghormatiku?

            Atau,

Sekedar layaknya canyon maple yang gugur meninggalkan musim panas?

Read the rest of this entry

Puisi: Teruntukmu, yang Selalu Meragukanku

Standard

Siapa peduli sikapmu bagaimana

Sebentar kamu manis sebentar kamu bikin eneg

Seolah aku punyamu saja

Seberapa kuat kabar buruk hari ini menarik lenganku tersungkur

Kau kira aku tidak bisa bangkit

Terserah dunia mau cemooh apa

Aku memang banyak kurangnya

Kau kira aku tidak kan belajar

Aku sengaja saja abaikan beberapa

Kau saja bukan Tuhan serba bisa, kan

Teriak tak karuanmu itu berarti apa

Sama seperti kurang ku juga punya lebih

Cuma mungkin bukan di waktu ini, di depanmu

Hari ini mungkin saja tersungkur, tp enggan berlutut

Teriak-teriaklah,

Terserah,

Toh esok bukan lagi hari ini

 

Teruntukmu, bagianku, yang selalu meragukanku.

Read the rest of this entry

Puisi: Saksi Tak Bernyawa

Standard

Ada cerita yang tak tertulis dan terdengar

Bahkan tak sempat dikisahkan

Apalagi dijadikan sejarah

Khawatir terlupakan

Dibutuhkan saksi,

Merekam jejak tilas atas banyak nama

Untuk aneka rasa dan asa

Untuk terbang dan tersungkur yang indah

Ketika bersama atau pun tanpa yang hidup

 

time concept, selective focus point, special toned photo f/x

 

Kenyataannya,

Ada waktu sebagai saksi tak bernyawa

Halaman khayal dengan indeks segala kata yang pernah

 

 

Kini kisah kita abadi, kisah kita bernyawa

Menjadi bagian waktu dalam waktu yang lain

Kisah kita tetap ada

Terselip. Ada.

Read the rest of this entry

Puisi: Si-Pengeja Hujan

Standard

Laksana sosok misterius di tengah derah hujan

Aku pikiran yg penasaran,girl on rain

Mencoba lukis gurat wajahnya yg bias karna garis2 air tak berkesudahan

Sosok itu mematung

Jarinya sebentar2 mematik air yg turun

Seolah pianis yg menekan ‘tut’ di udara

Aku tak dengar apa2, selain suara air yang tumpah tak kepalang

Tapi gimik tubuhnya, kakinya yg mematuk aspal pelan,

Seolah mendengar musik lain

Dia punya arti lain selain hanya bumi yg sedang diguyur

Dia

     sedang mengeja hujan

Puisi: Bingkai Waktu

Standard

Kita seperti kereta di rel yang berbeda

Dengan kecepatan yang menakjubkan,

sesekali akan jumpa di suatu stasiun dalam suatu waktu

Pertemuan indah dalam bingkai waktu yg memesona

 

Kita seperti kereta di rel yang berbeda

Walau ingin bersua sekedar menyeduh teh, jalur kita berbeda, sayang

Selamat, kita berada di ranah Tuhan Yang Maha Kaya

Kita difasilitasi jutaan awan untuk gantungkan lembaran do’a, cita dan cinta

 

Jangan khawatir, sayang

Kita bukan satu-satunya kereta yg tersesat

Lihatlah dari ketinggian,

Dunia ini dipenuhi rel dengan kereta yg ‘tersesat’

Satu momen indah dirangkum jadi satu bingkai yg bercerita

Lalu satu-satu digantung, sampai akhirnya awan penuh digantungi bingkai-bingkai itu

Lihatlah dari ketinggian,

Kita…

di rel yg berbeda, sayang

 

Puisi: Dialog Pagi

Standard

A: Langit timur dini hari ini sungguh manis yah..?

B: Awan seperti sedang tarik ulur dengan sesuatu yang ada di dalam sana

A: Lihat garis-garis oranye itu

B: Uwahh.. Menakjubkan, jelas sekali yah dari atas sini

A: Kasihan, matahari benar-benar dipaksa bangun

B: Berarti, hari ini telah dimulai lagi. Benar kan?

A: Hmm. Baiklah, mari kita mulai..

B: Mau kita tulis cerita apa hari ini?

A: Bagaimana kalau tentang kita?

B: Kita?

A: Iya. Umm, bagaimana dengan hal pertama yang kita lakukan pagi ini?images

B: Apa?

A: Lihat itu, “Dua gelas cappuccino di atas meja balkon dengan uap yang masih mengepul”?

A & B: ………………… 🙂

Puisi: Rambling

Standard

Yang datang malah pergi tanpa meninggalkan kata

Dikatakan agar tetap hadir malah melengos seakan tak kenal

Diusir satu kali malah raib hanguskan jejak jadi abu lalu melayang

Sayang, hati tak cukup kompak dengan bibir yang acuh

 

Kecewa,

Begitu saja?

Ini persis akan sketsa naif

 

Jangan ge-er, Saya tidak sedang bicara tentang Anda

Saya bicara tentang Saya sendiri

dan… keadaan yg Saya buat sendiri

Paragraf ini, Saya sedang bicara tentang banyak hal